Kita harus menuju fokus riset tentang baterai, dan teknologi baru lainnya,
Jakarta (KABARIN) - Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat (hub) kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) bagi pasar negara dengan sistem setir kanan.
Ketua Umum Periklindo Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko mengatakan, peluang tersebut muncul di tengah dinamika geopolitik global serta perubahan arah industri otomotif menuju kendaraan listrik.
“Indonesia harus berposisi sebagai hub, khususnya EV setir kanan,” kata Moeldoko dalam dialog ekonomi di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, sejumlah negara pengguna sistem setir kanan seperti Inggris, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Selandia Baru, dan India dapat menjadi pasar potensial bagi pengembangan industri kendaraan listrik nasional.
Menurut dia, peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan industri kendaraan listrik, baik kendaraan penumpang maupun komersial.
Moeldoko menilai, pengembangan industri kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya mineral, tetapi perlu didukung penguatan riset dan teknologi.
“Kita harus menuju fokus riset tentang baterai, dan teknologi baru lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, teknologi baterai menjadi faktor kunci dalam pengembangan kendaraan listrik, terutama untuk meningkatkan efisiensi pengisian daya dan daya tahan penggunaan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan produsen global untuk mempercepat transfer teknologi sekaligus memperkuat industri dalam negeri.
“Kita bisa berkolaborasi sekaligus melakukan transformasi teknologi,” tuturnya.
Moeldoko juga mengingatkan, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu menghasilkan produk kendaraan listrik dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Ia menambahkan, pengembangan kendaraan listrik juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui peningkatan konsumsi dan investasi.
Menurut dia, penggunaan kendaraan listrik secara pribadi dapat menekan biaya operasional dari sekitar Rp6 juta per bulan untuk bahan bakar minyak (BBM) menjadi sekitar Rp800 ribu.
Lebih lanjut, Moeldoko menilai pengembangan ekosistem kendaraan listrik perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari industri hulu hingga hilir, termasuk kesiapan infrastruktur dan edukasi pengguna.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026